Jakarta – Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital, permainan tradisional Indonesia perlahan mulai kehilangan tempat di hati generasi muda. Salah satu yang paling dikenal adalah Gobak Sodor, atau di beberapa daerah disebut Galasin. Permainan yang dahulu hampir selalu menghiasi sore hari di lapangan kampung, halaman sekolah, hingga tanah kosong di perumahan, kini semakin jarang terlihat dimainkan. Anak-anak yang dulu berlari sambil tertawa mengejar lawan di antara garis-garis lapangan, kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan permainan digital. Kamis, (9/7).
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa Gobak Sodor telah dikenal masyarakat Nusantara sejak masa kolonial Belanda. Permainan ini dipercaya berkembang dari permainan rakyat yang mengutamakan strategi, kerja sama, dan ketangkasan. Nama “Gobak Sodor” sendiri diyakini berasal dari istilah dalam bahasa Jawa, sementara di berbagai daerah permainan ini memiliki nama berbeda, seperti Galasin, Galah Asin, atau Galah Panjang. Meski berbeda penyebutan, aturan dan semangat permainannya tetap sama, yakni bekerja sama menjaga garis pertahanan dan berusaha menembus pertahanan lawan.
Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, Gobak Sodor menjadi salah satu permainan paling populer di Indonesia. Hampir setiap sekolah dasar menjadikannya sebagai permainan saat jam istirahat maupun pelajaran olahraga. Selain menyenangkan, permainan ini melatih kecepatan berpikir, kekompakan tim, keberanian mengambil keputusan, hingga sportivitas. Tidak heran jika banyak pendidik dan pemerhati budaya menilai Gobak Sodor memiliki nilai pendidikan karakter yang sangat kuat.
Namun, memasuki era digital, popularitas permainan ini mulai menurun drastis. Ruang bermain anak semakin sempit akibat pembangunan kawasan permukiman, sementara kehadiran telepon pintar, media sosial, dan games daring mengubah pola interaksi anak-anak. Akibatnya, banyak generasi muda yang bahkan tidak lagi mengenal aturan dasar permainan Gobak Sodor, apalagi pernah memainkannya secara langsung.
Menurut JFMOMENTS, Gobak Sodor bukan sekadar permainan tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya Indonesia yang mengajarkan banyak nilai kehidupan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kerja sama, komunikasi, kepemimpinan, strategi, disiplin, hingga rasa saling percaya antaranggota tim. Nilai-nilai tersebut justru sangat relevan dengan tantangan kehidupan modern yang menuntut kemampuan berkolaborasi dan membangun karakter yang kuat.
Melestarikan Gobak Sodor bukan berarti menolak kemajuan teknologi, melainkan menjaga agar generasi penerus tetap memiliki akar budaya yang kokoh. Sekolah, keluarga, komunitas, hingga pemerintah dapat kembali mengenalkan permainan ini melalui kegiatan olahraga tradisional, festival budaya, maupun aktivitas luar ruang yang melibatkan anak-anak dan remaja. Dengan demikian, Gobak Sodor tidak hanya menjadi cerita nostalgia orang tua, tetapi kembali hidup sebagai warisan budaya yang terus dimainkan oleh generasi masa depan.
JFMOMENTS meyakini bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merawat warisan budayanya. Gobak Sodor mengajarkan bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat, tetapi juga oleh siapa yang mampu bekerja sama, berpikir cerdas, dan menghargai lawan. Di tengah era digital yang serba instan, nilai-nilai itulah yang justru semakin penting untuk diwariskan kepada generasi Indonesia berikutnya.











