RUANG RASA ANGKAT FENOMENA “MENDAKI TANPA BERORGANISASI”: TREN BARU ATAU ANCAMAN BAGI REGENERASI?
by
Fajar
Tangerang Selatan – Fenomena semakin banyaknya pendaki gunung yang memilih beraktivitas tanpa bergabung dengan organisasi pecinta alam menjadi perhatian dalam gelaran Talkshow Ruang Rasa bertajuk “Mendaki Tanpa Berorganisasi: Tren Baru atau Ancaman Regenerasi?”. Kegiatan ini menghadirkan para praktisi, aktivis, dan alumni organisasi pecinta alam untuk membahas perubahan pola pendakian di era digital sekaligus menyoroti pentingnya regenerasi dalam dunia kepencintaalaman. Rabu, (1/7).
Talkshow berlangsung hangat dan interaktif dengan dimoderatori oleh Valentino Estheban (Bombon). Diskusi mengupas berbagai perspektif, mulai dari alasan generasi muda memilih mendaki secara independen, tantangan organisasi pecinta alam dalam menarik minat anggota baru, hingga pentingnya membangun budaya pendakian yang aman, bertanggung jawab, dan beretika.
Dalam pembukaannya, moderator menegaskan bahwa perubahan zaman harus disikapi dengan keterbukaan, bukan dengan saling menyalahkan.
“Fenomena mendaki tanpa organisasi bukan semata-mata persoalan benar atau salah, melainkan sebuah realitas yang perlu dipahami. Organisasi harus mampu menjawab kebutuhan generasi hari ini tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi fondasi dunia kepencintaalaman,” ujar Bombon.
Organisasi Adalah Sekolah Karakter
Reza Pratama, selaku Komandan Latihan Pendidikan Dasar Ganespa 2026, menekankan bahwa organisasi pecinta alam bukan sekadar tempat belajar teknik mendaki.
Menurutnya, organisasi merupakan ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, serta tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.
Pesan Reza Pratama:
“Gunung bisa mengajarkan banyak hal, tetapi organisasi mengajarkan bagaimana kita bertanggung jawab atas ilmu yang dimiliki. Pendidikan dasar bukan hanya melatih fisik, tetapi membentuk mental, etika, solidaritas, dan kemampuan mengambil keputusan ketika berada di alam bebas. Regenerasi harus tetap dijaga agar nilai-nilai itu tidak hilang.”
Organisasi Harus Beradaptasi dengan Generasi Baru
Sementara itu, Rizki Fahrezi, Ketua Umum MPA Archa Buana Universitas Pamulang, menilai organisasi pecinta alam saat ini harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman.
Menurutnya, hadirnya media sosial dan kemudahan akses informasi membuat banyak orang merasa cukup belajar secara mandiri. Namun ilmu yang diperoleh dari pengalaman organisasi tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan.
Pesan Rizki Fahrezi:
“Organisasi tidak boleh berhenti pada tradisi lama. Kita harus tetap menjaga nilai, tetapi juga terbuka terhadap inovasi agar organisasi menjadi ruang yang relevan bagi generasi muda. Yang terpenting bukan hanya mengajak orang bergabung, tetapi menghadirkan proses belajar yang berkualitas dan menyenangkan.”
Etika dan Tanggung Jawab Tidak Bisa Dipelajari dari Konten Saja
Pandangan berbeda disampaikan Gabriel Miracle, Sekretaris Ikatan Anggota Pendukung Palasi (IAPP) SMAN 1 Jakarta.
Ia menyoroti bahwa banyak pendaki pemula memperoleh referensi dari media sosial, tetapi belum tentu memahami etika dan tanggung jawab selama berada di alam.
Pesan Gabriel Miracle:
“Tutorial di internet memang membantu, tetapi tidak bisa menggantikan proses pembelajaran langsung bersama senior dan organisasi. Etika terhadap alam, kepedulian terhadap tim, manajemen risiko, hingga kepemimpinan lebih mudah dipahami melalui pengalaman nyata. Organisasi menjadi tempat mewariskan nilai-nilai tersebut.”
Pendakian Adalah Tentang Proses Belajar Seumur Hidup
Sebagai alumni, Denny Setiawan, Irmapala (Alumni) SMA Muhammadiyah 25 Pamulang, mengingatkan bahwa pengalaman organisasi memberikan bekal yang jauh lebih luas dibanding sekadar kemampuan mencapai puncak gunung.
Menurutnya, banyak alumni organisasi pecinta alam yang kemudian berkiprah di berbagai bidang karena terbiasa menghadapi tantangan, bekerja sama, dan memimpin.
Pesan Denny Setiawan:
“Mendaki bukan hanya soal sampai di puncak, tetapi tentang bagaimana proses itu membentuk karakter. Organisasi memberikan pengalaman yang akan terus berguna dalam kehidupan, baik di dunia kerja maupun di tengah masyarakat. Karena itu, regenerasi harus menjadi tanggung jawab bersama.”
Organisasi dan Pendaki Independen Tidak Perlu Dipertentangkan
Diskusi juga menyimpulkan bahwa pendaki independen bukanlah lawan organisasi. Keduanya memiliki ruang yang sama dalam menjaga kelestarian alam dan keselamatan aktivitas pendakian.
Yang menjadi perhatian adalah bagaimana nilai-nilai keselamatan, etika, konservasi, dan tanggung jawab tetap diwariskan kepada generasi berikutnya, baik melalui organisasi maupun berbagai bentuk edukasi lainnya.
Organisasi diharapkan mampu menjadi ruang yang lebih inklusif, adaptif, dan relevan terhadap kebutuhan generasi muda, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar kepencintaalaman yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Menutup diskusi, Valentino Estheban (Bombon) menyampaikan pesan yang menjadi benang merah seluruh pembahasan.
“Organisasi bukanlah satu-satunya jalan untuk menjadi pendaki yang baik. Namun organisasi merupakan ruang belajar yang telah melahirkan banyak pendaki, relawan, pegiat lingkungan, hingga pemimpin yang berintegritas. Karena itu, fenomena mendaki tanpa berorganisasi bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi refleksi bersama agar organisasi terus berbenah, lebih terbuka, lebih adaptif, dan tetap menjadi rumah bagi siapa pun yang ingin belajar mencintai alam. Pada akhirnya, yang terpenting bukan bagaimana kita memulai perjalanan, tetapi bagaimana kita menjaga keselamatan, menghormati alam, dan mewariskan nilai-nilai itu kepada generasi berikutnya.”
Talkshow Ruang Rasa diharapkan menjadi ruang dialog yang mampu mempertemukan berbagai perspektif sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi antara organisasi pecinta alam, komunitas pendaki, dan generasi muda dalam menjaga budaya pendakian yang aman, beretika, serta berkelanjutan. Dengan demikian, regenerasi tidak hanya berlangsung di dalam organisasi, tetapi juga tumbuh menjadi gerakan bersama untuk melestarikan alam Indonesia.
JAKARTA — Jalan hidup kadang menyimpan belokan yang tak terduga. Seorang remaja yang pernah mengikuti ajang cover boy kini berdiri dengan seragam kebesaran, menerima amanah
Jakarta — Ada pertemuan yang hadir bukan sekadar untuk bertukar kabar, tetapi juga membawa kehangatan, energi positif, dan inspirasi. Suasana itulah yang terasa ketika Duta
GORONTALO – JF Moments. Organisasi mahasiswa pencinta alam Universitas Gorontalo yang telah dikenal dengan nama Mapala Tilongkabila memperkenalkan penyebutan akronim MAHAPATIKA UNIGO sebagai bagian dari
JAKARTA, JF MOMENTS — Gemerlap panggung pemilihan Abang dan None Jakarta akan berakhir. Namun, perjalanan mereka sebagai representasi generasi muda Jakarta justru dimulai setelah selempang
Selat Sunda, Agustus 1883 Orang-orang pesisir mulai takut memandang laut. Abu turun. Batu apung memenuhi sebagian perairan. Krakatau terus menggelegar. Namun Sari masih menunggu di
Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, tidak semua orang memiliki keberanian untuk berhenti, memperhatikan keadaan, lalu berkata jujur tentang apa yang dirasakan. Banyak kenyataan
Jakarta – JFMoments. Semangat memperingati Hari Ulang Tahun ke-25 Partai Demokrat sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini hadir dengan cara yang dekat dengan
TANGERANG SELATAN-JFmoments. Semangat gotong royong dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan melalui kegiatan Operasi Bersih (OPSIH) di kawasan Situ 7 Muara, Pamulang, Tangerang Selatan. Sabtu,
DEPOK – JFMoments. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, regenerasi ulama menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Menjawab kebutuhan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI)
JFMoments-Tangsel. Fenomena tawuran pelajar yang kembali marak di berbagai daerah menjadi alarm serius bagi semua pihak. Di tengah kemajuan teknologi, akses pendidikan yang semakin luas,