JFMoments-Tangsel. Fenomena tawuran pelajar yang kembali marak di berbagai daerah menjadi alarm serius bagi semua pihak. Di tengah kemajuan teknologi, akses pendidikan yang semakin luas, dan banyaknya ruang bagi anak muda untuk berkarya, masih ada sebagian pelajar yang justru memilih menyelesaikan persoalan dengan kekerasan. Aksi yang sering terjadi di jalan raya maupun lingkungan permukiman itu bukan hanya membahayakan pelakunya, tetapi juga mengganggu kenyamanan masyarakat, merusak fasilitas umum, hingga menimbulkan korban luka bahkan kehilangan nyawa. Selasa, (21/7).
Ironisnya, di era media sosial saat ini, sebagian remaja masih menganggap tawuran sebagai bentuk keberanian atau cara mencari pengakuan. Padahal, keberanian yang sesungguhnya bukanlah mengangkat senjata tajam atau menyerang kelompok lain, melainkan mampu mengendalikan emosi, menghargai perbedaan, dan membangun prestasi yang membanggakan keluarga, sekolah, serta bangsa.
Menurut Nur Hafiz Kholis Fidon kepada JFMoments, fenomena ini tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau aparat penegak hukum. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, lingkungan, tokoh agama, komunitas, hingga pemerintah untuk membangun karakter generasi muda.
“Pelajar adalah aset bangsa. Jangan biarkan masa depan mereka habis di jalanan hanya karena ego sesaat. Tawuran bukan budaya kita. Yang harus kita bangun adalah budaya berdialog, berprestasi, dan saling menghormati. Anak-anak muda memiliki energi yang luar biasa, tinggal bagaimana energi itu diarahkan ke kegiatan yang positif,” ujar Nur Hafiz Kholis Fidon.
Ia menambahkan bahwa ruang-ruang kreativitas perlu terus diperbanyak agar pelajar memiliki wadah untuk menyalurkan bakat dan potensi. Kegiatan olahraga, seni, kepemudaan, kewirausahaan, literasi, hingga aktivitas sosial dinilai mampu menjadi alternatif yang jauh lebih bermanfaat dibandingkan aksi kekerasan yang hanya menyisakan penyesalan.
Di berbagai daerah, banyak contoh komunitas yang berhasil mengubah anak-anak muda menjadi pribadi yang produktif melalui kegiatan diskusi, olahraga, pendakian, musik, konten kreatif, maupun aksi sosial. Hal ini membuktikan bahwa ketika diberikan kesempatan dan pendampingan yang tepat, generasi muda mampu menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi lingkungannya.
Bagi JFMoments, menghentikan tawuran bukan hanya tugas aparat keamanan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Orang tua perlu lebih dekat dengan anak-anaknya, sekolah harus terus memperkuat pendidikan karakter, sementara masyarakat hendaknya tidak hanya menjadi penonton, melainkan ikut menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi remaja untuk bertumbuh.
Generasi penerus bangsa seharusnya dikenal karena karya, inovasi, dan prestasinya, bukan karena viral akibat aksi tawuran. Saatnya anak muda membuktikan bahwa keberanian sejati adalah berani bermimpi, berani berkarya, dan berani menjadi inspirasi bagi sesama. Karena Indonesia di masa depan tidak dibangun oleh mereka yang saling melukai, tetapi oleh mereka yang memilih untuk saling menguatkan.











