Tangerang Selatan – Di tengah kehidupan modern yang penuh hiruk-pikuk, manusia sering kali sibuk memperbaiki penampilan lahiriah, namun lupa menata batinnya. Padahal, hati yang tenang dan ruh yang hidup merupakan bekal utama dalam menjalani kehidupan. Salah satu tradisi yang telah lama diwariskan para ulama untuk membersihkan hati adalah membaca Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri. Selasa (7/7).
Bagi banyak kalangan pesantren dan majelis taklim, Burdah bukan sekadar kumpulan syair pujian kepada Rasulullah SAW. Lebih dari itu, Burdah menjadi media muhasabah diri, sarana memperhalus hati, menghidupkan ruh, serta menumbuhkan kerinduan yang semakin dalam kepada Nabi Muhammad SAW. Berbagai kajian menyebutkan bahwa isi Burdah sarat dengan pendidikan akhlak, pengendalian hawa nafsu, dan pembentukan kecintaan kepada Rasulullah sebagai fondasi kehidupan seorang muslim.
Salah satu pesan paling terkenal dalam Burdah adalah tentang pengendalian hawa nafsu. Imam Al-Bushiri mengibaratkan nafsu seperti seorang bayi. Jika terus dituruti, ia akan semakin kuat menguasai manusia. Sebaliknya, apabila dilatih dan dikendalikan, maka nafsu akan tunduk kepada akal dan iman. Pesan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan terbesar seorang hamba bukanlah melawan orang lain, melainkan menaklukkan dirinya sendiri.
Dalam tradisi tasawuf Nusantara, nilai tersebut sejalan dengan perjalanan spiritual KH Muttamakin, ulama besar Jawa yang kisahnya dikenal melalui tradisi Syekh Bolek (Cebolek). Perjalanan beliau menggambarkan bahwa hakikat ilmu bukan hanya banyaknya pengetahuan, melainkan keberhasilan membersihkan hati dari kesombongan, hawa nafsu, dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Spiritualitas yang beliau ajarkan menekankan bahwa seorang pencari ilmu harus terus melakukan muhasabah, memperbanyak zikir, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama.
Membaca Burdah dalam suasana khusyuk menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda. Setiap baitnya seakan mengajak pembaca melihat kembali perjalanan hidupnya; sudah sejauh mana cinta kepada Rasulullah benar-benar diwujudkan dalam akhlak, ibadah, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama. Ketika hati mulai lembut oleh lantunan shalawat, ruh memperoleh energi baru untuk bangkit dari kelalaian menuju ketaatan.
Nurhafiz Kholis Fidon, Sekretaris Komisi Infokom MUI Tangerang Selatan, menilai bahwa tradisi membaca Burdah memiliki makna yang sangat relevan di tengah tantangan zaman.
«”Muhasabah adalah kebutuhan ruhani setiap muslim. Ketika seseorang membaca Burdah dengan penuh penghayatan, sejatinya ia sedang mengajak hatinya kembali mencintai Rasulullah SAW. Dari cinta itulah lahir kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, serta menjadikan setiap langkah kehidupan lebih dekat kepada Allah SWT. Ruh yang terus diberi asupan shalawat akan lebih kuat menghadapi godaan dunia dibandingkan ruh yang dibiarkan kosong dari zikir dan keteladanan Nabi.”»
Menurut Nurhafiz, tantangan terbesar generasi saat ini bukan semata perkembangan teknologi, tetapi derasnya arus yang dapat menjauhkan manusia dari kepekaan hati. Karena itu, majelis-majelis shalawat, pembacaan Burdah, dan kegiatan muhasabah perlu terus dihidupkan sebagai ruang pendidikan karakter sekaligus penyucian jiwa.
Pada akhirnya, Burdah mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW bukan hanya diucapkan melalui lisan, tetapi dibuktikan dengan perjuangan mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki diri, dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hati dipenuhi shalawat, ruh akan menemukan energinya. Dan ketika ruh telah hidup, kerinduan kepada Rasulullah SAW akan tumbuh semakin kuat, menjadi cahaya yang menuntun setiap langkah menuju ridha Allah SWT.










