Di desa yang jauh dari perkotaan, Fazio mengenal pagi dari suara ayam dan sore dari teriakan ibunya.
“Faziooo! Pulang!”
Suara itu selalu sampai ke telinganya, bahkan ketika sinyal telepon di desanya menyerah sejak siang.
Fazio duduk di kelas enam. Ia suka bermain bola, mencari jangkrik, dan mengajukan pertanyaan yang kadang membuat orang dewasa membetulkan posisi duduk.
Suatu pagi, Bu Ratih menulis di papan tulis:
30 September 1965.
Fazio mengangkat tangan.
“Bu, kenapa sih kita harus belajar sejarah?”
“Menurutmu, kenapa?”
“Itu yang saya tanyakan, Bu.”
Teman-temannya tertawa. Bu Ratih ikut tersenyum.
Fazio melanjutkan, “Kalau belajar berhitung, saya bisa menghitung uang kembalian. Kalau belajar pertanian, saya bisa membantu Bapak. Tapi kalau hafal kejadian zaman dulu, bisa dipakai buat apa?”
Bu Ratih meletakkan kapurnya.
“Pertanyaan bagus. Simpan dulu. Hari ini kita mencari jawabannya bersama.”
Fazio membuka buku. Ia berharap jawaban itu tidak sepanjang jalan dari desanya ke kantor kecamatan.
Hari itu mereka belajar tentang tragedi G30S, yang dalam pelajaran sekolah sering disebut G30S/PKI.
Bu Ratih menjelaskan bahwa pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah perwira Angkatan Darat.
Ia tidak menceritakannya seperti kisah seram.
Ia mengajak murid-murid membayangkan rumah yang menunggu seseorang pulang, tetapi orang itu tidak pernah kembali.
“Di balik nama dan tanggal,” katanya, “ada manusia. Ada keluarga. Ada anak yang kehilangan orang tua.”
Fazio berhenti memutar pensilnya.
“Sesudah itu, Indonesia juga mengalami kekerasan yang luas. Banyak orang dan keluarga ikut menderita,” lanjut Bu Ratih. “Karena itu, belajar sejarah perlu dilakukan dengan teliti. Kita membaca, memeriksa sumber, dan berani bertanya.”
“Supaya tahu siapa yang salah, Bu?”
“Supaya kita memahami apa yang terjadi dan bagaimana orang mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi kesalahan seseorang tidak boleh diwariskan kepada anak atau cucunya.”
Fazio menunduk pada bukunya. Tanggal di halaman itu masih sama, tetapi kini terasa lebih berat.
Sepulang sekolah, Fazio menemukan Kakek sedang memperbaiki pagar kebun.
“Kek, kenapa kita harus belajar sejarah?”
Kakek menoleh.
“Supaya kamu tidak jatuh ke lubang yang sama.”
Fazio segera melihat tanah di bawah kakinya.
“Yang mana, Kek?”
Kakek tertawa kecil.
“Lubang kesalahan.”
“Oh. Saya kira lubang bekas singkong.”
Kakek menancapkan sebatang bambu.
“Kamu ingat jalan dekat sungai yang pernah ambles?”
“Ingat. Sandal saya hilang di situ.”
“Sekarang kalau lewat sana, kamu bagaimana?”
“Memutar. Atau cari tanah yang kuat.”
“Karena kamu ingat apa yang pernah terjadi.”
Fazio mengangguk.
“Tapi sejarah bangsa lebih rumit daripada sandalmu,” kata Kakek. “Kita harus mendengar dengan sungguh-sungguh dan mencari bukti. Jangan merasa sudah mengerti hanya karena mendengar satu cerita.”
Fazio mengambil bambu lain untuk membantu.
“Berarti mengingat itu bisa menjaga kita, ya, Kek?”
“Kalau dipakai untuk berpikir.”
Keesokan harinya, sebelum pelajaran dimulai, kelas Fazio gaduh.
Uang kas untuk membeli bola hilang dari laci.
“Aku lihat Damar dekat meja tadi!” seru seorang anak.
“Berarti dia yang ambil!”
Damar berdiri di samping bangkunya. Wajahnya pucat.
“Aku cuma mengembalikan penghapus.”
Beberapa teman mulai menjauh darinya.
Fazio hampir ikut bicara. Ia juga melihat Damar di dekat meja. Namun ia teringat pertanyaan Bu Ratih: Bagaimana kamu tahu?
“Sebentar,” katanya. “Ada yang benar-benar melihat Damar mengambil uang?”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalau cuma berdiri dekat meja berarti mencuri, saya sudah sering bersalah di dekat warung gorengan.”
Seorang teman tertawa pendek. Ketegangan sedikit mengendur.
Fazio mengajak mereka memeriksa laci, kolong meja, dan buku-buku.
Uang itu akhirnya ditemukan terselip di dalam buku catatan bendahara.
“Aku yang menyimpannya kemarin,” kata bendahara kelas dengan suara pelan. “Lupa.”
Damar duduk tanpa berkata apa-apa.
Anak yang pertama menuduh mendekatinya.
“Maaf, Mar.”
Damar mengangguk. Tetapi senyumnya belum kembali.
Fazio melihat itu. Uangnya sudah ditemukan, tetapi rupanya ada sesuatu yang tidak bisa langsung dibereskan.
Ketika Bu Ratih masuk, Fazio mengangkat tangan.
“Bu, saya mulai tahu kenapa kita belajar sejarah.”
Bu Ratih mempersilakannya bicara.
Fazio menceritakan kejadian uang kas.
“Kalau ramai-ramai bilang seseorang salah, ternyata belum tentu benar,” katanya. “Dan kalau sudah membuat orang takut atau sedih, bilang maaf belum tentu langsung menyembuhkan.”
Bu Ratih mengangguk.
“Kejadian di kelas tentu berbeda jauh dari tragedi bangsa,” katanya. “Namun kebiasaan memeriksa fakta dan memperlakukan orang dengan adil bisa kalian mulai di sini.”
Fazio menatap Damar.
“Berarti menjaga Indonesia bisa mulai dari menjaga teman sendiri, Bu?”
“Bisa. Dari cara kalian berbicara, menyelesaikan perselisihan, dan menghormati sesama.”
“Tidak harus menunggu jadi presiden?”
“Tidak.”
Fazio tampak lega.
“Syukurlah, Bu. Saya belum tahu cara mengurus negara. Mengurus jadwal piket saja masih sering lupa.”
Kelas tertawa. Kali ini Damar ikut tersenyum.
Sore itu Fazio duduk di beranda bersama Kakek. Di hadapannya, sawah menguning dan anak-anak berlari mengejar bola yang lebih sering ditambal daripada ditendang.
“Sudah ketemu jawabanmu?” tanya Kakek.
“Sudah. Sejarah memang tidak bisa dicangkul.”
“Lalu?”
“Tapi bisa membantu orang yang memegang cangkul supaya tidak sembarangan bertindak.”
Kakek tersenyum.
Fazio membuka buku tulisnya. Di bawah catatan tentang G30S, ia menambahkan:
Ada keluarga yang kehilangan orang tercinta. Ada luka yang panjang. Aku perlu belajar dengan teliti, supaya tidak mudah menuduh dan tidak menganggap nyawa orang lain murah.
Dari ujung jalan, Damar memanggil.
“Fazio! Main bola!”
Fazio menutup bukunya.
Ia belum memahami seluruh sejarah Indonesia. Masih banyak yang ingin ditanyakannya kepada Bu Ratih.
Tetapi sore itu, ketika Damar mengoper bola kepadanya, ia tahu satu hal yang bisa ia lakukan.
Ia mengoper kembali.
“Bagus, Mar!”
Dari beranda, Kakek melihat dua anak desa itu berlari bersama, mengejar bola di tanah lapang.
Lalu terdengar suara ibu Fazio.
“Faziooo! Mandiii!”
Fazio berhenti sejenak, menoleh kepada Damar.
“Kalau panggilan itu saya abaikan, sejarah membuktikan panggilan berikutnya memakai nama lengkap.”
Damar tertawa.
Dan Fazio berlari pulang.








